Surat untuk Seseorang yang Tidak Perlu Menjadi Milikku
Ada tulisan yang kutulis bukan untuk dibaca banyak orang, tapi untuk merapikan isi kepalaku sendiri. Ini salah satunya. Aku memutuskan membaginya karena mungkin ada yang sedang berada di tempat yang mirip, dan siapa tahu ada satu-dua kalimat yang berguna.
Untuk kamu, yang mungkin membaca ini: nggak perlu dijawab, dan nggak perlu dipikirin harus bilang apa. Anggap aja aku lagi ngobrol denganmu, seperti biasa.
Bukan karena aku ingin mendapatkan jawaban tertentu darimu, tapi karena aku merasa ada beberapa hal yang lebih baik disampaikan dengan jujur daripada terus kusimpan dan kutafsirkan sendiri.
Aku pengen bilang: makasih ya.
Lucu kalau diingat. Awalnya kamu cuma seseorang yang kukenal lewat pekerjaan, dan aku cuma orang yang bekerja untukmu. Sesederhana itu.
Aku juga nggak datang dengan pikiran bakal mengenal seseorang seperti kamu. Aku cuma senang ketika hubungan kerja bisa berkembang jadi lebih manusiawi: bekerja bareng, bercanda, saling bantu, lalu mungkin jadi teman.
Dan ternyata sama kamu, memang berkembang ke sana. Pelan-pelan. Dari ngobrol soal kerjaan, nyasar ke hal-hal random, cerita tentang hari masing-masing, capek, keluarga, hal-hal kecil yang sebenarnya nggak penting-penting banget, tapi entah kenapa enak dibicarakan.
Aku suka proses ketika seseorang yang awalnya asing perlahan jadi familiar. Sampai akhirnya aku sadar, aku bukan cuma suka ngobrol sama kamu.
Aku mulai suka kamu.
Cara kamu berpikir, bercerita, bekerja. Cara kamu bisa serius tapi tetap absurd. Cara kamu punya pendirian sendiri, bahkan cara kamu bertanya hal-hal kecil. Aku jadi penasaran, bukan cuma sebagai rekan kerja, tapi sebagai manusia.
Dan di suatu titik, ternyata rasa itu tumbuh.
Aku ingat ketika kamu mulai bercerita hal-hal yang lebih personal. Waktu kamu lelah, lagi nggak baik-baik aja, atau cuma butuh tempat untuk bicara. Mungkin dari situ rasa pedulikku berubah. Aku nggak cuma menikmati keberadaan kamu. Aku mulai benar-benar peduli sama keadaan kamu.
Dan aku ingat hal-hal kecil yang kamu lakukan buat aku. Di tengah hari yang sibuk, kamu masih sempat milihin makanan yang aman buat aku, nyisihin sesuatu karena aku datang terlambat, ngingetin aku untuk beribadah, nanya apakah aku baik-baik aja, bilang aku nggak harus menghadapi semuanya sendirian. Hal-hal begitu mungkin sederhana buat kamu. Tapi aku ingat.
Akhirnya aku jujur ke kamu. Aku bilang aku tertarik dan ingin mengenalmu lebih jauh. Sampai sekarang aku nggak menyesal pernah mengatakannya, karena itu yang memang kurasakan.
Setelah semuanya terjadi, ada satu hal yang perlahan kupahami.
Kamu pernah menyampaikan kondisi dan kapasitasmu waktu itu. Waktu pertama mendengarnya, aku belum benar-benar bisa mencernanya. But I think I understand it better now.
Aku juga mulai ngerti bahwa ada banyak hal yang mungkin nggak selalu kelihatan dari tempat aku berdiri. Ada hal-hal yang aku rasakan, ada hal-hal yang aku tahu, dan ada juga hal-hal yang ternyata terjadi di belakang layar tanpa aku punya konteksnya.
Dan mungkin itu juga yang belakangan ini aku pelajari: nggak semua perubahan yang kurasakan harus langsung kuartikan sebagai sesuatu tentang aku, atau tentang kita berdua. Kadang memang ada keadaan yang sedang dijalani seseorang, dan aku nggak selalu tahu seberapa berat keadaan itu dari luar.
Aku juga nggak mau setiap pesanku terasa seperti sesuatu yang harus kamu jawab, atau setiap kedekatan kita terasa seperti sesuatu yang harus kamu beri kepastian. Aku masih suka ngobrol sama kamu. Aku masih peduli. Aku masih senang kalau kamu bercerita. Tapi aku nggak mau semua itu berubah jadi tuntutan.
Belakangan aku sadar, aku nggak harus buru-buru menentukan apa arti semua kedekatan ini. Buat aku sekarang, ada hal-hal yang cukup dinikmati tanpa harus langsung diberi nama.
Selama mengenalmu, aku jadi lebih kenal diriku sendiri.
Ternyata aku orang yang sangat menghargai continuity. Aku suka kalau sesuatu terasa punya kelanjutan. Aku suka komunikasi yang jelas. Aku nggak terlalu jago menghadapi sesuatu yang menggantung atau tiba-tiba berhenti. Dan kadang, kalau seseorang berarti buatku, aku bisa terlalu ingin memastikan orang itu tetap ada.
Itu bagian dariku yang harus kupegang sendiri. Bukan tanggung jawabmu.
Aku lagi belajar bahwa peduli nggak selalu berarti mendekat terus.
Aku nggak menyesal sudah mengenalmu. Bahkan dengan semua bagian yang kadang bikin aku bingung atau nggak nyaman, aku tetap nggak merasa pertemuan kita adalah sesuatu yang salah. Karena banyak hal baik yang datang dari sini.
Aku jadi lebih sadar sama cara aku menjalani hidup. Aku mulai lebih peduli sama kesehatan dan kebiasaanku sendiri. Aku jadi lebih banyak berefleksi.
Aku belajar soal attachment-ku sendiri: bagaimana aku bereaksi ketika takut kehilangan seseorang, dan bagaimana seharusnya aku menghadapi perasaan tanpa menjadikannya tanggung jawab orang lain.
Dan anehnya, aku jadi lebih sering mengingat Tuhan. Mengingat Allah.
Terima kasih sudah pernah menjadi jembatan dalam memberikan kehangatan, kasih sayang, dan pembelajaran dari Allah untukku.
Aku sering berdoa, minta dikasih kekuatan untuk menerima tanpa harus memaksa sesuatu yang memang bukan untukku.
Kalau ditanya apa jawabannya sekarang, aku nggak tahu. Dan mungkin memang belum perlu tahu.
Kadang aku berpikir, hidup ini kok lucu.
Dulu, baru lulus kuliah, aku nggak pernah membayangkan bakal menjadi desainer interior seperti sekarang. Nggak pernah membayangkan bakal mengerjakan proyek seperti ini, bertemu orang-orang yang kutemui.
Dan somehow, di tengah semua itu, aku ketemu kamu. Seseorang dengan standar tinggi terhadap pekerjaannya, wawasan yang luas, cara berpikir sendiri, dan banyak hal lain yang bikin aku kagum.
Sementara aku ya aku. Orang biasa. Hahaha.
Aku bahkan masih nggak ngerti kenapa orang sespesial kamu mau ngobrol sama orang sebiasa aku. Bukan karena aku menganggap kamu "di atas" aku. Tapi karena kalau aku kembali ke diriku beberapa tahun lalu, aku nggak akan percaya bahwa hidupku bakal sampai ke titik di mana, dari semua orang yang kutemui dan yang bisa kamu temui, somehow kita sempat saling mengenal.
Ada satu kutipan yang terus terngiang:
"How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard." — A.A. Milne, Winnie-the-Pooh
Aku suka kutipan itu karena menurutku dia nggak bicara soal memiliki. Cuma soal bersyukur bahwa pernah ada sesuatu yang cukup berarti sampai meninggalkan jejak.
Aku nggak harus menjadikannya sebuah hubungan untuk mengakui bahwa ini bermakna. Aku juga nggak harus tahu seperti apa kita akan dekat, untuk bisa bersyukur bahwa aku mengenalmu.
It happened.
Kita sudah ngobrol, tertawa, dan berada di sebuah ruang personal yang mungkin awalnya nggak pernah kita rencanakan. Saling bercerita tentang hal-hal yang mungkin nggak akan kita ceritakan ke orang lain.
Dan buatku, itu sudah punya tempatnya sendiri.
Sekarang, aku cuma pengen menjalani apa yang memang masih ada di depan kita dengan sebaik mungkin. Tanpa terlalu banyak memaksa tahu akhirnya akan seperti apa.
Kita tetap jadi diri kita masing-masing. Tetap menjalani hidup masing-masing. Dan kalau memang masih ada ruang untuk kita saling hadir di dalamnya, ya aku akan menghargai ruang itu.
Setelah itu, ya kita lihat saja hidup membawa kita ke mana.
Terima kasih ya, untuk obrolan-obrolan kita, kepercayaan yang pernah kamu kasih, cerita-cerita yang kamu bagi, kesabaran, semangat, kejujuran kamu. Bahkan untuk hal-hal yang waktu itu nggak gampang kuterima. Dan untuk semua hal kecil yang mungkin biasa aja buat kamu, tapi ternyata aku ingat.
And whatever happens from here, I genuinely wish you well.
Semoga kamu baik-baik terus. Semoga pekerjaanmu suatu hari terasa lebih ringan. Semoga kamu punya lebih banyak ruang untuk bernapas, berolahraga, dan menikmati hal-hal yang kamu suka. Semoga dikelilingi orang-orang yang bikin kamu merasa aman. Semoga tetap sehat, tetap kuat, tetap bisa ketawa sebanyak mungkin. Semoga kamu menemukan ketenangan yang kamu cari, lewat siapa pun atau apa pun itu.
Semoga kamu, keluargamu, dan orang-orang yang kamu sayang seutuhnya, selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.
Because you mattered to me. And I don't think something has to belong to me for it to matter.
Take care ya.
Lagu ini kutulis dalam masa itu. Judulnya Take Time.
https://soundcloud.com/namagueitu/take-time
Kalau kamu yang membaca ini sedang berada di tempat yang mirip, semoga tulisan ini menemani. Kamu nggak sendirian.
Komentar
Posting Komentar