Thoughts: About Validation, Attitude, Reasons, Matters (Part 2)
Kenapa gue memutuskan untuk menulis bagian kedua dari judul ini? Karena sekarang, gue merasa mendapat jawaban dari apa yang gue pikirkan kala itu.
Jawabannya adalah: Nggak ada alasan apapun yg menjustifikasi kesalahan atau perilaku seseorang, karena itu namanya tidak bertanggungjawab atas diri sendiri.
Singkat cerita, dua minggu ini, gue ada masalah di kantor. Gue kesulitan untuk fokus dan berkreasi. Juga, gue diminta untuk mengerjakan tugas lebih cepat, padahal gue belum tentu bisa. Disitu gue frustasi dan akhirnya mencari bantuan ke psikolog.
Psikolog kemudian mengarahkan gue untuk memikirkan, kira-kira siapa yang bertanggung jawab sama diri sendiri dan hidup kita sendiri.
Gue tau, jawaban sebenenarnya ya diri sendiri. Tapi gue saat itu belum paham apa maksudnya. Setelah mencoba refleksi diri dan introspeksi, gue menemukan kalau maksud dari itu, ya own the things that you do.
Itu, yang gue rasa masih belum ada di diri gue saat menulis postingan part 1. Itu, yang gue rasa membuat seorang (mantan) sahabat kesal dan kecewa.
Sederhananya, itu semua terjadi karena gue mencari-cari alasan, mencari pembenaran, dan tidak mengakui apa yang gue lakukan sebenarnya.
Itu, jawaban dari pemikiran gue di postingan sebelumnya. Kalau kita, masih cari-cari alasan kenapa suatu hal terjadi, itu artinya kita enggak bertanggung jawab sama hal itu. No excuse, own what we did. That's responsibility.
Mungkin sekalian, gue pengen menyampaikan sesuatu buat lo, mantan sahabat gue.
Gue minta maaf, selama kenal sama lo, banyak hal yg gue lakukan yang membuat suasana keruh. Maaf, kedekatan yang gue berikan ke lo membuat lo tidak nyaman. Maaf, gue gak bisa berjanji apa-apa dan make a move saat itu karena masih ada urusan yang belum selesai sebelumnya. Maaf, gue gak terbuka sama sekali. Maaf, gue terlalu berasumsi yang tidak-tidak terhadap sahabat lo, yang gue gak kenal siapa, yang lo lebih kenal dan percaya. Maaf gue membuat lo baper ke gue (hiya pede abis). Maaf, akhirnya semua sikap gue ke lo bikin bingung dan merasa dipermainkan. I can assure you I'm not. Maaf, gue sering tidak menghargai usaha yang lo lakukan.
Yang terakhir, maaf, gue masih berharap kita masih jadi teman, meskipun kita sudah tidak. Maaf, gue membahas sedikit yg terjadi diantata kita dalam sebuah lagu. Semoga lo gak tersinggung dengan itu. Semoga juga, meskipun cuma sekali, lo pernah dengerin lagu itu.
Layaknya lirik yang tertera di lagu itu,
Even tho we don't talk like we used to,
I'm so glad about things that we've been through,
All I hope is the best wishes for you.
I'm so glad we,
were a best friend.
Dhil.
Komentar
Posting Komentar