Unfriended, loneliness, et cetera.

Kemarin lusa, gue kehilangan seorang teman. Enggak, dia gak meninggal. Dia cuma udah gak mau berteman sama gue lagi.

It may sound bad, but I bet you it isn't. It is necessary. Alasan utama kenapa dia gak mau berteman sama gue lagi adalah karena dia bingung, sama apa yang terjadi diantara kami. Dia juga memendam rasa kesel dari lama dan dia gak bisa lepas gitu aja sama kekesalannya terhadap gue. Itu juga akibat dari kesalahan yang gue buat ke dia; salah satunya adalah bertingkah terlalu berlebihan padahal hanya seorang teman.

Dalam pesannya, dia mengutip temennya yang sempat gue judge:

Kak Dhito is a more proper adult than us, but yeah he feels a lot lonely.

Lonely. Ya, kesepian. Sebuah isu yang sudah lama terjadi, yang gue pikir karena dunia kuliah dan hal yang sudah gue lalui, isu itu gak dateng lagi, dan gue sudah terbebas hidup lebih besar dari isu itu. Ternyata gue salah.

Kejadian tadi membuat gue berkaca ke berbagai macam hal yang dulu terjadi masa kuliah. Masa-masa gue gak disukai sama teman angkatan karena bertingkah yang gak wajar ke mereka. Bisa dibilang cara gue saat itu flirty, sok kenal, dan bahkan ada yang pernah gue traktir makan dan pengen gue beliin hadiah, padahal saat itu kami belum siapa-siapa; hanya orang-orang yang hadir di sekolah yang sama, di tahun yang sama.

Gue kembali ke masa kini. Ternyata hal itu terjadi selalu di fase saat gue baru nyaman berteman dengan seseorang. Suatu hal yang gue pikir sudah gue lupakan, ternyata justru malah secara tidak sengaja gue lakukan lagi ke orang lain.

Gue pun curhat ke salah satu sahabat gue yang pernah mengalami fase yang sama. All she said to me is that she didn't relate with it, selama berteman dengan gue.

Tapi makin kesini gue makin berpikir sih.

Gue memang kesepian.

Kesepian.

Kesepian ini menjadi sebuah trauma yang mendalam di hidup gue, yang entah gue pikir gue bisa melupakan trauma ini. Kesepian adalah satu kata yang menghantui, sekaligus menjadi inti dari kehidupan gue pada akhirnya.

Bikin karya, karena kesepian. Nge-game asik, karena kesepian. Live streaming di Twitch, karena kesepian. Nongkrong di Discord, karena kesepian. Proving to my prior friends that bully me before that I could do anything, karena kesepian.

Semua hal yang gue bisa lakukan dan gue lakukan sampai hari ini, sesederhana karena gue kesepian.

Selain kesepian, gue juga merasa terisolasi.

Rumah.

Rumah yang gue tinggali ini membuat gue terisolasi.

Gak bisa pergi kemana-mana, harus nurut Nyokap, harus percaya sama apa yang Nyokap percaya, dll. Semua kekangan yang terjadi di rumah ini, gue lampiaskan ke depan komputer; ke internet.

Namun pertanyaannya sekarang: Apakah gue mau untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama? Ya. Sangat.

Solusinya? Mungkin adalah dengan memulai perubahan: Ikut terapi, refleksi diri, jadi diri yang lebih baik.

Tapi..

Selama gue ada di lingkungan yang sama, dihadapkan dengan orang yang sama dan masalah yang sama setiap harinya, dan harus merasa tertekan dan baru bisa tenang setelah jam makan malam, gue gak ngerti apakah hal itu memungkinkan.

Usaha gue untuk diet, hidup sehat pun selalu hancur di minggu pertama; ya karena lingkungan yang tidak mendukung juga.

Namun, kalimat gue barusan di atas juga merupakan bentuk gue "menyalahkan" hal lain dan bukan diri sendiri.

Gue udah gak paham mana yang benar dan salah dari apa yang gue lakukan.

Gue merasa, gue adalah orang yang gak punya kehidupan, pada akhirnya. Yang pergi ke luar sana adalah bentuk dari coping mechanism gue menghadapi kesepian; bukan diri gue yang sesungguhnya.

Entah gue masih layak untuk dikatakan hidup atau tidak.

Gue takut, dengan diri yang gak akan bisa berubah ini, gue gak layak untuk ditempatkan dimana mana di masyarakat. Gak layak dan gak akan bisa untuk berkenalan dengan orang lain lagi, menjalin hubungan, bekerja dengan giat, dll. Hidup gue, badan gue dan diri gue terlalu kompleks untuk bisa hidup normal di masyarakat. Melelahkan.

Tapi ya, seperti apa yang biasa gue katakan ke diri gue dan orang lain yang mendengar cerita gue,

yaudahlah ya mau gimana, gapapa;


Semoga suatu hari, gue mampu untuk benar-benar, beranjak dari kesepian ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Meracik Teh Ala Gue Itu

10 Oktober 2024, Aku Patah Hati.

How things work.