Malas. Mager. Lelah. Letih.



Isu kemalasan buat gue merupakan hal yang utama. Mungkin, untuk sebagian besar orang juga. Entah mengapa, gue melihat kemalasan di diri gue menjadi sebuah hal yang berbeda.

Kembali beberapa tahun yang lalu, saat gue SMP. Nggak jarang gue males banget ngerjain tugas, terutama tugas Bahasa Inggris saat itu. Sampai-sampai, ada sebuah peraturan di kelas Bahasa Inggris saat itu yang mengharuskan orang yang tidak mengerjakan tugas itu untuk keluar kelas sampai tugasnya selesai, baru ia boleh masuk kembali ke dalam kelas. Gue menjadi salah satu yang tidak mengerjakan tugas.

Akhirnya gue keluar kelas. Gue berada di luar sambil menyicil tugas yang diberikan. Kelas selesai, kami lanjut ke kelas berikutnya. Gue melipat buku yang tadinya gue buka, dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu gue lupa bahwa ada tugas tersebut.

Gue melakukan itu lebih dari sekali, dan akhirnya semuanya menumpuk di akhir. Begitu sudah menumpuk, ya gue nggak bisa ngerjain secepat kilat layaknya teman-teman yang lain. Jadilah gue langsung kena masalah sama beliau. Untungnya gue masih dibolehkan diluluskan, dan tahun-tahun berikutnya gue jalani dengan hati-hati.

SMA ternyata terulang lagi. Di tahun pertama semester kedua, gue nggak mengerjakan tugas PPKN. Gue lupa sih kenapanya, tapi kayaknya karena nggak ngerjain tugas yang diberikan, atau lupa. Tugasnya lagi-lagi menumpuk sampai akhir semester, dan gue dipanggil BK. Sekalinya punya kasus dan dipanggil guru BK adalah saat gue nggak ngerjain tugas. Serta melihat kondisi sekolah saat itu, kasus gue ya termasuk kasus yang masih kecil. Yang lain ada yang karena bolos, karena tawuran, karena kasus sama guru. Lah gue? Gara-gara nggak ngerjain tugas. Bukan anak yang sangat berandal.

Untungnya lagi, gue masih dikasih kesempatan untuk ngejar dan diluluskan.

Perkuliahan pun terulang lagi. Gue nggak ngerjain tugas konstruksi bangunan. Tugas gambar yang harusnya gue kerjakan, tapi malah nggak. Gue coba ngejar tapi nggak bisa cepet, dan akhirnya gue mengumpulkan H+7 dari deadline, itu juga dengan tidak diberikan langsung ke dosennya, melainkan di loker beliau. Alhasil gue dapat nilai E, sebuah nilai yang nggak ada di bayangan gue. Seumur-umur nggak pernah dapet nilai jelek (kecuali nilai 40 di SD), langsung dapet E. Gue langsung shock. Gue berada di ambang DO karena mata kuliah tersebut termasuk mata kuliah persiapan dan wajib lulus. Kalau tidak lulus dan sampai semester 4 tidak lulus, alhasil gue harus drop out.

Kemalasan gue ini pun berjalan lurus dengan ketidakmampuan gue dalam berkomunikasi. Setiap ada hal buruk terjadi sama gue, yang akan gue lakukan adalah menutupinya sebisa mungkin dari Bokap dan Nyokap. Gue pikir, mereka sudah terlalu tua untuk harusnya khawatir dengan keadaan gue. Toh selama 12 tahun gue bersekolah, nggak pernah satu kali pun gue membahagiakan mereka dengan prestasi. Yang ada mereka malu. Maka dari itu, gue nggak ngomong saat nilai gue jelek. Gue takut. Meskipun pada akhirnya Nyokap tau karena diceritain dosen wali gue.

Nggak beda jauh sama Dosen di kampus. Ada sebuah rasa ketakutan, kesungkanan saat membuat sebuah kesalahan (bahkan kecil) kepada mereka. Rasa malas dan kebingunan yang menyelimuti ini membuat makin takut untuk menghadapi Dosen. Mahasiswa seharusnya sering meminta bimbingan terkait tugas mereka, namun di semester 3 gue dapat Dosen yang kurang mengenakkan diajak komunikasi. Sehingga beliau sering memberi tahu gue untuk membenarkan pekerjaan gue dulu baru meminta bimbingan beliau. Gue jujur sakit hati dan kecewa, karena rasanya gue nggak seharusnya disepelekan seperti ini. Gue juga pengen belajar, dan kalau ada satu mahasiswa yang kinerjanya tidak lebih baik dari teman-temannya, justru bukan malah menyamakan. Mulai dari situ kedepannya, gue jadi nggak punya bond yang kuat terhadap Dosen-Dosen gue.

Kalau bisa dijabarkan dari tiap semesternya, dosen pertama gue di studio hamil, sehingga tidak bisa memberikan bimbingan. Begitu pula dengan semester dua. Semester tiga dapat dosen yang seperti itu, dan semester empat dapat dosen yang sakit. Semester lima juga mendapat dosen yang sakit, dan semester enam mendapatkan dosen yang persis dengan semester dua. Di semester tujuh ini pun dosen gue memberikan banyak tuntutan progres dan rasanya sungkan untuk membuat koneksi pribadi. Sulit.

Kemalasan gue pun didukung oleh sebuah psikotes yang diadakan oleh SMA gue waktu itu dan gue akui hasil mereka sesuai dengan apa yang terjadi sama gue.

Beberapa hasil dan informasi ada yang gue sensor ya, nggak sepatutnya orang lain tau. Toh, di pojok kanan atas ada tulisannya "Rahasia"

Dari hasil psikotes, gue punya problem di pengendalian emosi, vitalitas, motivasi belajar, stabilitas kerja, dan konsentrasi. Gue sering banget dan gampang banget emosi kalau ada suatu hal yang nggak sesuai. Gue juga merasa punya masalah terkait jumlah energi yang ada di badan gue. Motivasi juga nggak terlalu membantu gue, padahal sering banget gue dimasukin ke acara-acara motivasi sama Bokap. Kalau kerja pun gue susah banget konsentrasi, yang akhirnya gue jadi nggak stabil kalau ngerjain sesuatu. Nggak sampai selesai.

Sebenernya sikap ini mirip sih sama Nyokap yang kalau nyuci baju nggak pernah selesai, pasti ditinggal nonton TV atau ditinggal tidur. Beda sama Bokap yang kalau nyuci pasti langsung selesai, nggak pernah ditunda-tunda.

Komunikasi gue juga berantakan, kan?

Sebenarnya, yang paling mengganggu dari semua ini tuh kecepatan kerja gue. Dibandingkan temen-temen yang neurotypical, gue pasti telat kalau ngerjain sesuatu. Misalkan mereka dalam dua jam sudah bisa selesai tiga sampai lima tugas, gue pasti cuma bisa ngerjain satu atau dua. Rasanya tuh kayak gini selalu dari gue SD sampai SMA. Bahkan sempat ada suatu momen di SD, di mana temen-temen gue tuh kok kayaknya kalau ngerjain ujian cepet banget selesainya dan sementara gue enggak. Akhirnya gue pusing, stres, dan gue boikot kerjaan gue sendiri. This problem existed since the early days.

Maka dari itu gue jadi maniak energy drink, yang gue ceritakan di posting sebelumnya.

Gue pun jadi khawatir apakah gue sanggup untuk keluar dari lingkaran pendidikan. Melihat kinerja gue yang kayak gini, dengan nilai terburuk adalah stabilitas kerja. Gue sedih, ragu, takut, serta jadi berpikir, apakah gue layak untuk hidup dengan kondisi kayak gini. Bertahun-tahun gue coba perbaiki, bertahun-tahun gue selalu dibantu sama orang tua. Saat mereka nggak ada, apakah gue mampu untuk berjalan sendiri, hidup sendiri dan berjuang hingga tua nanti?

Biasanya kalau udah gini,  gue cuma nurutin apa kata para psikolog yang pernah gue datengin:

Turunkan kualitas,
Turunkan perfeksionitas,
seraya berkata ke diri sendiri
"Ya sudah, mau gimana lagi? Lihat nanti deh..."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Meracik Teh Ala Gue Itu

10 Oktober 2024, Aku Patah Hati.

How things work.