Sedih.
Sedih gue.
Sekarang sudah tahun keempat, sudah waktunya mengerjakan tugas akhir. Kecemasan akan masa depan selalu muncul ketika hadir di kondisi kayak gini. Gue merasa belum punya pengetahuan yang cukup akan apa yang gue pelajari tiga tahun kebelakang, sementara tuntutan orangtua untuk menyelesaikan tepat waktu menjadi sebuah bom waktu yang terikat di badan.
Sedih gue.
Di tahun keempat ini, rasanya gue belum menjalani hidup sepenuhnya. Jarang banget asik-asikan dan seru-seruan bareng teman-teman dan gue sering memaksa diri untuk tetap bahagia dan senang. Akan selalu ada pikiran bahwa orang lain akan memiliki kesibukan dan kesukaannya masing-masing. Kalau seseorang pernah bilang bahwa setiap orang akan punya banyak peran, gue selalu beranggapan kalau gue tak pernah masuk sebagai pilihan peran.
Sembari menulis, gue jadi teringat akan sebuah perkataan yang gue dapatkan dari seorang motivator, Ainy Fauziyah. Saat itu, gue dipaksa bokap untuk ikut semacam pelatihan kepemimpinan untuk remaja.
Ceritanya saat itu para peserta diminta untuk menulis surat untuk orangtua. Gue menulis tentang betapa gue minta maaf tidak mampu menggapai apa yang mereka inginkan, serta memohon doa dan bantuan agar gue bisa melaluinya. Saat ditanya tentang mengapa gue menulis surat, gue sampai menangis. Lalu beliau bercerita bahwa bokap ternyata menghampiri gue di tengah acara dan berbincang sebentar dengan Bu Ainy. Setelah itu, beliau berkata ke gue,
Awalnya gue pikir kenapa beliau berkata begitu. Gue pulang dari kegiatan tersebut dengan biasa, karena gue sering ikut kegiatan-kegiatan "memotivasi" seperti itu dan biasa aja hasilnya.
Sampai, Esa meninggal.
Gue ngerasa sendiri. Gue ngerasa kalau Esa ninggalin gue, dan bu Ainy (yang awalnya juga ngaku bisa melihat masa depan (?)) mengantisipasi akan hal ini.
Sampai saat ini, gue jadi punya pikiran di kepala kalau gue nggak boleh sendiri.
Tapi... Kenyataan malah membuat gue makin sedih.
Gue lebih sering sendiri dibanding sama teman-teman. In fact, mungkin teman-teman gue juga berubah, seiring berjalannya waktu. Jarang ada yang tetap, yang menetap. Yang ada, mungkin lebih banyak pihak yang nggak suka dengan keberadaan gue.
Sedih gue.
Tahun penuh teman dan kenangan akan selesai dan gue akan masuk ke kehidupan yang sebenarnya, meskipun kehidupan kini juga bukan sesuatu yang fana.
Gue cuma berharap gue tidak keluar dari sini sendirian. Tapi, masih mau berharap, To?
Sekarang sudah tahun keempat, sudah waktunya mengerjakan tugas akhir. Kecemasan akan masa depan selalu muncul ketika hadir di kondisi kayak gini. Gue merasa belum punya pengetahuan yang cukup akan apa yang gue pelajari tiga tahun kebelakang, sementara tuntutan orangtua untuk menyelesaikan tepat waktu menjadi sebuah bom waktu yang terikat di badan.
Sedih gue.
Di tahun keempat ini, rasanya gue belum menjalani hidup sepenuhnya. Jarang banget asik-asikan dan seru-seruan bareng teman-teman dan gue sering memaksa diri untuk tetap bahagia dan senang. Akan selalu ada pikiran bahwa orang lain akan memiliki kesibukan dan kesukaannya masing-masing. Kalau seseorang pernah bilang bahwa setiap orang akan punya banyak peran, gue selalu beranggapan kalau gue tak pernah masuk sebagai pilihan peran.
Sembari menulis, gue jadi teringat akan sebuah perkataan yang gue dapatkan dari seorang motivator, Ainy Fauziyah. Saat itu, gue dipaksa bokap untuk ikut semacam pelatihan kepemimpinan untuk remaja.
Ceritanya saat itu para peserta diminta untuk menulis surat untuk orangtua. Gue menulis tentang betapa gue minta maaf tidak mampu menggapai apa yang mereka inginkan, serta memohon doa dan bantuan agar gue bisa melaluinya. Saat ditanya tentang mengapa gue menulis surat, gue sampai menangis. Lalu beliau bercerita bahwa bokap ternyata menghampiri gue di tengah acara dan berbincang sebentar dengan Bu Ainy. Setelah itu, beliau berkata ke gue,
Ayah sudah cerita tentang kamu, Ayah sama Bunda sayang sama kamu. Kamu itu kebanggaan mereka. Ibu titip pesan sama kamu ya, kamu jangan sampai sendirian.
Awalnya gue pikir kenapa beliau berkata begitu. Gue pulang dari kegiatan tersebut dengan biasa, karena gue sering ikut kegiatan-kegiatan "memotivasi" seperti itu dan biasa aja hasilnya.
Sampai, Esa meninggal.
Gue ngerasa sendiri. Gue ngerasa kalau Esa ninggalin gue, dan bu Ainy (yang awalnya juga ngaku bisa melihat masa depan (?)) mengantisipasi akan hal ini.
Sampai saat ini, gue jadi punya pikiran di kepala kalau gue nggak boleh sendiri.
Tapi... Kenyataan malah membuat gue makin sedih.
Gue lebih sering sendiri dibanding sama teman-teman. In fact, mungkin teman-teman gue juga berubah, seiring berjalannya waktu. Jarang ada yang tetap, yang menetap. Yang ada, mungkin lebih banyak pihak yang nggak suka dengan keberadaan gue.
Sedih gue.
Tahun penuh teman dan kenangan akan selesai dan gue akan masuk ke kehidupan yang sebenarnya, meskipun kehidupan kini juga bukan sesuatu yang fana.
Gue cuma berharap gue tidak keluar dari sini sendirian. Tapi, masih mau berharap, To?
Komentar
Posting Komentar