Ruang Bahagia

Gue cenderung menarik diri kalau ada temen gue yang udah punya gebetan atau pacar. Menarik diri-nya bisa sampai bener-bener gak ngobrol akrab lagi, atau bahkan bisa kaya dua orang yang saling nggak kenal. Prinsip kayak gini nggak muncul tiba-tiba, sih, yang jelas. Semua berawal dari kejadian pas gue masih maba (mahasiswa baru).

Gue punya temen, namanya Sofia. Salah satu temen asal Jakarta yang kebetulan aja lagi deket sama gue waktu itu. Sofia nggak seberapa tinggi dan berisi, punya mata yang belo, dan gingsul yang terlihat kalau dia senyum.

Sebagai orang baru di Surabaya, gue gak punya banyak temen. Apalagi, gue satu-satunya Alumni dari SMA yang diterima di kampus di Surabaya. Iya, selangka itu.

Mungkin kalau gue bikin acara buka bersama Alumni SMA di Surabaya, setiap hari juga udah bukber, kali. Hehe.

Karena itu, semester awal kehidupan perkampusan gue dipenuhi bersama temen-temen perantauan. Salah satunya Sofia.

Saat itu tugas kuliah belum seberapa membebani, jadi gue sering jalan-jalan. Sofia biasanya yang memulai, yang nanya mau jalan-jalan ke mana. Terus ada Ihsan yang jadi supir karena punya mobil. Gue biasanya bareng Damo sama Syifa, cuma jadi tim hore aja di belakang.

Pernah kita jalan-jalan ke Madura, cuma demi nyobain gimana rasanya Bebek Sinjay yang katanya terkenal itu. Kita berangkat jam 10 dari kampus, dan tiba di sana jam 12.

Ternyata, ramai banget. Udah kayak ikan teri di ember kali ya. Saat itu, gue belum pernah lihat restoran bebek seramai itu.
"Ini mau makan di sini?" tanya gue ke teman-teman.
"Terserah sih gua mah," jawab Ihsan.
"Bungkus aja kali, ya? Rame banget gini," tawar Sofia.
"Iya, deh. Kotor gini juga tempatnya," salip Syifa sambil ngeliatin kucing kejar-kejaran sama tikus.
Gue mengambil sikap, "Oke, deh. Bungkus lima porsi. Duitnya sini."
Teman-teman menyodorkan uangnya ke gue. Uang itu gue serahkan ke penjaga kasir dan ditukar dengan 5 bungkus paket bebek goreng.

Dari Bebek Sinjay kita menuju ke jembatan surabaya, jembatan yang entah menghubungkan apa. Lucu aja gitu. Kalau kalian cari di Internet 'Jembatan Surabaya' itu kaya gimana, itu cuma sebuah jembatan jalan raya yang melengkung sepanjang 800 meter, terus ditengahnya ada air mancur sebaris. Udah. Jalannya juga nggak pernah dibuka untuk mobil. Pasti ditutup dan dipakai orang jalan kaki.

Meskipun aneh, kami tetap pergi ke sana. Ihsan memarkirkan mobilnya di parkiran taman pantai, sekitar 200 meter dari jembatan. Dari sana kami jalan kaki, dan setibanya di jembatan kami segera mencari tempat untuk makan.

"Wah, seru juga ya. Makan malam ditemani angin laut, suara gemericik air, dan lampu jalan yang redup ini," kata Sofia, yang sedang kagum dengan sekitarnya.
"Iya, Sof. Syahdu gitu," kata Syifa.
"Asik juga kalau bisa kaya gini tiap malem." Ihsan setuju.
"Bisa kok tiap malem kaya gini." Gue menambahkan, "Tinggal makan di kamar mandi yang kerannya nyala sambil bawa kipas sate. Angin dapet. Gemericik air dapet. Lampu redup dapet."
Damo keselek. "Yeh, goblok," tegas Damo. "Syahdu kagak, masuk angin iya."

Tanpa sepengetahuan kami, Sofia mengambil gambar kami yang sedang makan dengan kamera yang gue bawa.
"Wah, gak bilang-bilang lu ngefoto, Sof," kata Ihsan. "Kan gue bisa sisiran dulu."
"Pret, kentut lu, ah," balas Sofia.
Kami semua tertawa.

"Pokoknya, kalau mau jalan-jalan lagi, harus rame-rame kaya gini ya!" seru gue.
Semuanya mengangguk sambil menyantap bebek masing-masing.

-

Semakin lama gue kenal Sofia, semakin kita membicarakan hal-hal sensitif. Contohnya, saat dia nanya kenapa bokernya warnanya hitam, atau saat gue nanya kenapa kalau digelitik geli. Pokoknya hal-hal sensitif deh. Semuanya berjalan biasa saja, sampai dia mulai cerita lagi deket sama seorang teman dari Telegram.

"Eh, Dhit. Gue lagi deket sama cowok nih."
"Oh ya? Nemu di bungkus apa?"
"Yeh, apaan si. Nggak nggak, kenalnya di Telegram karena main werewolf."
"Hah? Telegram?"
"Iya. Jadi kan waktu itu ada grup Telegram khusus angkatan kita kan sekampus, nah gue iseng aja tuh join dan ikut main werewolf. Eh pernah waktu itu kami gak sengaja chat pribadi, keterusan deh sampai sekarang."
"Oalah. Ya, bagus dong? Udah baper belum? Biasanya kan gitu, tuh."
"Apaan si. Gak tau sih, tapi kita belum pernah ketemuan, kok. Gue malu nih, Dhit."
"Ya elah. Gausah malu, kali." Gue melanjutkan "Paling kalau dia gak demen, pulang-pulang ketemu langsung diblok."
"Hih! Apaan sih." Sofia langsung bete.
"Tapi, kita bakal tetep kaya gini kan?" Nada gue ngomong mulai pelan.
"Iya, dong! Gue kan seneng ada di dekat lo."

-

Dua minggu berlalu semenjak dia cerita ke gue, Sofia jadi mulai bertingkah beda. Pulang ngampus jadi jarang nongkrong, kalau diajak jalan suka nggak bisa ikut, kalau malem suka atraksi di lampu merah.

Pokoknya, beda.

Sampai pernah kejadian gue ngajak dia makan siang, dia nolak. Katanya lagi ada urusan nanti sore. Saat itu gue lagi di Masjid kampus. Eh, dari kejauhan, gue melihat ada sesosok wanita yang kayanya gue kenal.

Iya, itu Sofia. Tapi dia sama seseorang saat itu. Cowok, tingginya hampir sama kaya Sofia, kulitnya hitam kaya sawo matang, dan kalau jalan kaya Jackie Chan lagi ngangkang.

"Wah, sama siapa ya tuh Sofia?" Karena gue penasaran, gue samperin aja Sofia. Saat momen itu, gue jadi serasa senior yang lagi ngelabrak orang.

"Wey, siapa nih?"
"Eh, Dhito. Kenalin, ini Rahman. Temen gue anak Teknik Fisika."
"Halo," sapa gue ke Rahman. Dia diam aja.
"Hehe, dia anaknya rada malu-malu kucing gitu," kata Sofia, agar kami tidak canggung. "Eh iya, gue makan dulu ya Dhit."
"Iya," jawab gue, bingung.

Anjir. Bilangnya gak mau makan siang, tapi tadi izin makan. Saat momen itu juga gue langsung berpikir: Dia lagi pengen sama Rahman.

Terkadang, deket sama orang, suka sama orang dan baper sama orang membuat kita melupakan sekitar sejenak, berharap dunia jadi milik berdua. Mungkin Sofia mengecewakan gue saat itu, yang katanya seneng deket sama gue, ternyata gak selamanya kaya gitu. Apalagi kalau udah muncul rasa iri, karena saat itu gue yang baper sama dia.

Mungkin juga, kalau gue ada di tempat yang sama kaya Sofia, gue juga akan melakukan hal serupa. Gue bakal mengupayakan waktu, usaha dan perhatian gue untuk seseorang ini. Artinya, gue bahagia sama dia.

Begitulah munculnya prinsip ini. Sesederhana, menjaga jarak, memberi ruang, untuk orang lain bisa bahagia dengan pilihannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Meracik Teh Ala Gue Itu

10 Oktober 2024, Aku Patah Hati.

How things work.