Sakit Bikin Hati Teriris
Hari minggu ini gue menyempatkan diri untuk menulis lagi dan menyempurnakan tata bahasa gue, sehingga tidak terkesan labil dan sebagainya.
Ngomong-ngomong, dengan terpaksa gue harus menghentikan penulisan #1Day1Dream karena faktor teknis. Enggak, bukan karena laptop gue meledak. Melainkan karena gue jatuh sakit.
Sedikit informasi, tekanan darah gue (terhitung tanggal 12 Januari 2015 *anjir keren banget ya*) mencapai 80/50. Atau dengan kata lain, tensi gue rendah.
Di saat-saat itu gue lemes banget, enggak ada semangat. Enggak ada yang bisa dikerjakan juga. Alhasil gue enggak bisa menulis untuk postingan-postingan selanjutnya.
Meskipun begitu, keinginna gue untuk menulis blog masih tinggi. Gue masih ingin menulis kembali, mencoba memasuki dunia yang pernah gue masuki dengan susah payah, dan berakhir dengan beberapa pembaca yang nyangkut di blog gue. Demi mereka, demi kalian, gue akan tetap melanjutkan menulis.
Namun, masalah utama muncul: gue mau tulis apa?
Apa yang kira-kira akan gue tulis di sini? Sesuatu yang unik? Info-info hasil copy paste? Atau mungkin curhatan anak SMA yang sebenarnya enggak lucu sama sekali, tapi tetap terlihat lucu?
Gue memilih pilihan terakhir. Enggak termasuk bagian lucu-nya.
Jadinya, seperti yang gue katakan tadi, gue akan menulis, at least mencoba menulis setiap minggu dan menceritakan hal-hal yang terjadi pada seminggu terakhir.
Gitu deh.
-
Di minggu ini, gue dipenuhi pikiran di mana gue harus mengerjakan tugas, atau belajar, dalam keadaan sakit. Dan pastinya, enggak enak sama sekali.
Hari pertama gue sakit, bokap justru marah-marah karena gue lemes banget saat sakit.
'Kamu nih, kalau sakit tuh harus semangat! Kaya Ayah nih loh. Walaupun Ayah sakit, tapi tetap Ayah tahan tuh. Enggak ada alasan buat kamu tuk sakit.' Bokap gue seakan-akan sedang memarahi prajurit yang disuruh tiarap, justru mengambil granat dan melemparnya ke kawan sendiri. Kalau gue jadi prajurit yang dimaksud, gue mungkin sudah teriak 'Siap, Jendral!'
Gue pergi ke dokter juga sendirian. Bokap gue memutuskan untuk menunggu di luar, agar melatih gue untuk berani ke dokter sendiri. Padahal gue tau, Bokap lebih percaya tukang pijit daripada dokter.
Di ruang dokter, gue diperiksa dari perut, dada, tenggorokan, sampai kaki. Entah apa yang dia cari dari kaki gue.
Dari situ, gue dikasih obat, dan semacamnya. Gue harus menghabiskan obat itu. 'Ya, semoga kuat aja lah', pikir gue saat itu.
Gue juga awalnya ditawarkan untuk dapat surat dari dokter. Gue tolak, mengingat apa yang sudah Bokap katakan ke gue tadi. Gue harus semangat, dan semangat untuk belajar!
Alhasil di sekolah gue nongkrong seharian di UKS. Emang nasib. Ya walaupun enggak begitu nasib, karena gue tiba-tiba diberi uang oleh Ibu Kepsek yang baru, karena memang saat itu gue belom makan sama sekali.
Tapi, sakit itu membawa petaka. Setiap hari gue jadi telat ke sekolah, sekali kena pelanggaran. Pernah satu hari gue udah telat masuk sekolah, dan pelajaran saat itu gurunya Killer. Kebetulan pelajaran fisika. Jadinya gue panik di jalan. Bukan karena itu pelajaran fisika, karena gue kebelet pipis di saat yang tidak tepat.
Layaknya film action, gue sudah merencanakan apa yang akan gue lakukan setibanya di sekolah. Antara gue masuk ke kelas, dan--sudah pasti--diusir lagi ke luar kelas, atau gue enggak masuk kelas sama sekali, dan kabur ke ruang BK.
Setibanya di sekolah, gue masih melihat ada teman-teman yang masih bisa masuk ke sekolah. Gue mengikuti mereka masuk, dan mendapati guru-guru belum ada yang menghukum anak-anak yang terlambat. Dengan deg-degan gue berjalan ke arah kelas gue yang terletak di lantai 1.
Gue menaiki 3 anak tangga, dan melihat ke dinding sebelah kiri, ada Utami, temen gue, yang celingukan kaya orang bego melihat ke arah ruang guru, yang letaknya di seberang kelas gue. Dengan sigap, gue melakukan olah bibir (gerakan seakan-akan berbicara, tapi enggak mengeluarkan suara sama sekali. Iya, gue tau itu enggak kreatif banget) menirukan kata-kata 'Ada bu Siti gak?'
Utami menjawab 'Enggak' sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemana bu Siti hari ini? Tumben sekali ia telat? Seorang guru killer, telat masuk kelas? Bukan sesuatu yang biasa, gue membatin.
Gue masuk kelas, tadarus sekolah selesai, dan gue secepatnya meletakkan tas gue di atas meja. Gue pun duduk, dan menunggu. Selama 10 menit tidak ada guru. Teman-teman semua langsung berisik, seperti biasanya. Kemudian bu Siti masuk.
Ternyata beliau sedang sakit. Batuk flu. Bukan, bukan flu batuk. Batuk flu. Gerakan batuk tapi bukan dahak yang keluar, melainkan ingus yang ditelan terus menerus.
Oke, sampai titik ini, mulai agak jorok.
Dan lima menit setelah ia masuk, mati lampu. Iya, sekolah mati lampu. Dengan sukses, keadaan hari ini membuat teman-teman memiliki perasaan di hati 'Yes, akhirnya gak belajar fisika!'
Tapi melihat usaha yang dilakukan bu Siti waktu itu, gue jadi semangat untuk belajar, walaupun dilanda sakit yang berkepanjangan.
Gue pun mengeluarkan buku, mengambil pulpen
Minggu ini, ceritanya kaya gini. Gimana minggu lo?

Komentar
Posting Komentar