Jadi Pengajar? Siapa Takut? - Day 7 #1Day1Dream

Yap, kembali lagi bersama gue kali ini, kita akan membahas tentang mimpi gue #4: Pengen Jadi Guru/Dosen.

Melanjutkan mimpi gue yang kemarin, gue merasa selain membuat sebuah media pembelajaran buat teman-teman semua, gue juga ingin sekali bisa mengajar untuk generasi di bawah gue. Kenapa? Gue gila? Enggak kok. Gue cukup waras akan pilihan ini.

Mulai muncul dari kualitas guru-guru saat ini, atau doktrin-doktrin guru pada jaman dulu, Gue ngerasa, kita yang punya sikap seperti inilah yang membuat kita ini menjadi kurang maju. Gue pengen banget untuk ngasih tau sesuatu ke generasi baru di bawah gue, mulai dari tujuan belajar itu sebenarnya apa sampai penerapan Hyperstudy (yang belum baca, cek di sini ya).

Gue pengen banget buat jadi guru, apa aja deh. Mau Matematika, Fisika, Kimia, Ekonomi, Sejarah, ataupun TIK gue jabanin. Kenapa gue berani? Karena artikel di postingan kemarin itu. Kita selamanya akan menempuh proses belajar, dan proses itu akan berakhir apabila kita sudah dicabut ruh-nya dari tubuh kita. Dan sebelum waktu itu terjadi, gue mau aja mempelajari berbagai macam ilmu (ceritanya resolusi 2015 juga, untuk gak malas-malasan belajar).

Dosen Neuroscience favorit gue: Dr. Daniel Pierce (source: dear-book.net)

Dan alasan lain, Guru itu adalah Pahlawan tanpa tanda jasa. Katanya. Nah, kenapa bisa begitu? Karena kita dibimbing belajar oleh guru semenjak kita kecil. Pertanyaannya, apakah guru itu membesarkan seorang Pahlawan, atau seorang Penjahat? Kan berbahaya tuh. Dan gue ingin sekali mengajar dengan teknik gue sendiri, dengan cara gue sendiri.

Pengalaman ngajar? Ada kok.

Dulu sebelum fokus ke dunia ngajar, gue pernah diminta bantuan untuk mengajar di SMP gue, di jadwal pemantapan khusus-nya. Saat itu, gue gak tau apa-apa dan gue ngeblank banget soal pelajaran itu.

Gue juga pernah untuk ngajar di tempat bimbel. Jadi ceritanya, gue diceritain sama seorang guru Biologi, bahwa ada satu kelas yang kalau ditanya mau belajar apa, mereka jawab "Reproduksi!" Karena gue penasaran, akhirnya gue menyamar jadi satu tutor di kelas tersebut (kebetulan gue lagi gak les saat itu, dan dateng cuma untuk pemantapan aja)

Gue masuk ke kelas, dan gue tanya pertanyaan itu. Nampaknya mereka lebih jaim. Nah, gue jelasin deh saat itu, Materinya syaraf otak. Gue jelasin syaraf itu apa dan gunanya, dan gue minta mereka untuk ngejelasin sendiri, dan liat buku. Gue juga ngebawanya dengan gaya yang, menurut gue santai aja. Setelah beberapa lama, gue balikin lagi ke guru Biologi dulu, dan gue sempet kabur ke WC untuk menunaikan tugas suci.

Setelah gue keluar dari WC, gue disamperin sama seorang kakak yang biasa mengurusi administrasi di sana. Gue pun ditanya sama kakak itu "Kamu tau si Andre gak yang tadi kamu ajarin di atas?"

"Iya tau kak. Kenapa?"

"Iya, dia barusan turun ke bawah, dan nanyain ke kakak 'Kak kak, kak Tanto itu ngajar gak disini? Aku enak banget kak belajar sama dia. Tentor ya di sini?' gitu Tanto."

Gue dalam hati syok. Padahal yang gue lakukan diatas hanyalah membual tentang materi itu, dan mengulang apa yang sudah jelas ada di buku.

Mulai dari situ, gue suka banget buat ngajar. Dan gue mencoba untuk mengajar, tapi dengan gaya yang lebih dimengerti sama anak-anak.

Gue jadi inget, sebenarnya gue udah mengidam-idamkan hal ini dari jaman dahulu kala. Dulu ya, gue suka melamun sendiri, trus membayangkan sesosok gue masuk ke ruangan kelas, lalu ngasih materi ke murid-murid, dan para muridnya itu gak pada ngantuk/tidur. Gue ngebayangin itu terus selama gue kecil. Sungguh.

Nah, dari situ deh gue suka buat ngajar. Ada yang suka ngajar juga? Atau malah kalian udah jadi Guru? Atau Calon Guru? Share pengalaman kalian dong di bagian Komentar. Biar gue bisa ikut belajar juga :D

Akhir kalam, disaat orang-orang berkata "Jadi guru kan gajinya gak gede to", gue pun menjawab:

"Apakah seorang guru harus mengajar di sekolah?"

As I was saying, ini impian gue. Kalau lo?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Meracik Teh Ala Gue Itu

10 Oktober 2024, Aku Patah Hati.

How things work.