Stop Kontak, oh Stop Kontak..
Gue balik ngeliat ke postingan sebelum ini, dimana gue nulis postingan terakhir pas idul fitri. Setelah gue lihat kalender, gue sadar kalau udah lama banget gue gak ngeblog lagi. Sebenarnya sih bukan karena gue gak ada kejadian seru, tapi gue suka ceritain cerita gue sendiri di dalam hati, jadi suka males buat ceritain lagi.
Kalian gitu juga gak? Atau malah gue doang yang kaya gini?
Oke, lanjut deh.
Sebelumnya, gue mau minta maaf buat semuanya kalau gue jarang ngeblog akhir-akhir ini, soalnya memang sekolah gue yang membuat kesibukan yang sungguh padat (cailah), dan juga ada lomba tilm yang gue waktu itu ikuti (walaupun gak menang sih.. Hehe)
Semua itu bikin gue sadar kalau jadinya blog gue gak keurus begini. Padahal, walaupun gue udah pasang post "penarik pembaca", tetap saja kehadiran gue terasa mati di blog ini. Aku sangat rindu kepada kalian, wahai pembaca setiaku :')
Cukup sedih-sedihannya ya. Maskara gue luntur.
Sekarang ini gue lagi mengerjakan sebuah projek untuk sekolah gue (lebih tepatnya pengen ikut lomba film mewakili sekolah). Sekarang projek itu masih dalam tahap penulisan naskah. Karena gue dikejar deadline sama pak produser gue, maka gue memutuskan untuk mengerjakannya gak cuma dirumah. Ya, gak di rumah.
Kan keren aja gitu, kaya lu adalah seorang penulis novel komedi, mengetik naskahnya di cafe-cafe atau di restoran, itu bikin image sang penulis jadi keren. Tapi kayanya, rules itu gak berguna buat gue.
Hari sabtu kemarin, gue jalan bareng nyokap ke PIM. Ceritanya abis nemenin nyokap benerin mobil. Pas benerin itu, ada mbak-mbak spg penjual rokok. Pakaiannya ketat, kakinya mulus plus hak tinggi 10 senti, dan juga bagian belakangnya yang mempesona...
Kayanya fanboying tadi harus dihentikan sebelum para pembaca mimisan. Tapi serius, mbak-mbak spg-nya kasian gitu.
Gimana gak kasian? Cewek-cewek secantik itu harus ada di lingkungan kumuh tempat para supir mobil membenarkan majikannya, menawarkan penhisapan. Kasian banget. Padahal gak perlu susah-susah, tinggal ikut casting dan nangis sepuasnya, kalian bisa main sinetron di Laga Elang Indociar.
Lanjut deh.
Jadi gue di PIM. Batere laptop gue udah abis gara-gara gue pake nonton film 5cm pas di bengkel tadi. Alhasil gue melancarkan rencana gue: Menulis di Mall.
Gue jalan bareng nyokap ke PIM. Sampai di lantai 2/3, gue bilang ke nyokap "Mah, aku mau nulis dulu ya. Ntar aku sms-in tempatnya." Nyokap mengiyakan gue.
Tempat demi tempat gue telusuri, layaknya orang bego. Gue keliling-keliling PIM dari lantai satu ke lantai 3 buat nyari restoran mana yang ada stop kontaknya.
Sungguh gak modal banget. Ada yang liat gue waktu itu?
Setelah selama kurang lebih setengah jam gue membabi dan membuta (membuta karena gak nemu restoran berstop kontak, dan membabi karena capek lari-lari dan idung kembang kempis, kaya idung babi), Tuhan menganugerahi gue sebuah tempat yang ada stop kontaknya: WENDYS PIM.
Gue masuk ke Wendys dan duduk di meja deket stop kontak. Gue sengaja taruh laptop dulu di atas meja dan beli makan dulu supaya gak dikira numpang colokan (walaupun iya sih..). Seusai makan, gue langsung memulai operasi rahasia: memasukkan colokan laptop ke stop kontak.
Step yang gue lakukan:
1. Melihat sekitar -- ada seorang satpam yang lagi patroli. Nunggu sampai pergi.
2. Membuka laptop dan meletakkan di meja -- sempet kentut bentar gara-gara panik laptopnya berat
3. Ambil charger laptop dan dicolokin ke stop kontak -- Masalah muncul di sini. Gue tadinya nyolokin dari jauh (supaya gak ketauan malu) tapi karena stop kontaknya cacat, gue harus mendekat dan jongkok.
Dan gue baru inget gue lupa pakai sabuk. Oh syit. Tapi, laptop berhasil tercolok
4. Nyalain laptop dan ngetik sepuasnya! :D
AKHIRNYA, GUE BERHASIL COLOKIN LAPTOPNYA!
*tari saman di Wendys* *dikasih duit gopean* *diusir sama satpam pim*
Gue akhirnya bisa ngetik sepuasnya. Dengan diiringi musik iTunes, gue mulai menulis.
Setelah beberapa lama, gue stuck. Bingung mau nulis apa lagi. Gue diam sebentar, dan mematikan iTunes yang sedang berputar. Gue memperhatikan sekitar.
Disana ada pasangan muda (yang gue nilai dari dialog lo-gue nya), yang kehilangan anaknya. Si istri ngomong "Mas, Dinda mana!? Gue pikir dia sama lu tadi!"
"Ya keles sama gue! Gue aja gak tau dia ngikutin kok!", bantah si suami
Si istri langsung panik membabi buta (idungnya kaya babi dan kayanya kacamatanya retak.. Gak deng, kebingungan nyari anaknya), dan langsung lari menuju ke arah Toys r us (atau kids station? Gue lupa).
Gue seketika berfikir, what will happened next? Apakah anaknya tiba-tiba ketemu di tempat mainan anak-anak sambil pegangan bareng dedek wendy yang mukanya mirip badut psikopat berdarah dingin daripada tokoh anak-anak? (No offense, just a joke)
Gue kembali memperhatikan yang lain. Ada suami istri yang ngomongin anaknya sendiri di depan gue. Mereka berasa curhat gitu, sayangnya gue udah gak terlalu ingat apa yang mereka bicarakan.
Lambat laun, orang-orang di belakang gue pada ngeliatin apa yang gue kerjain. Walaupun dari jauh sih.. Tapi tetep gue gak peduli sama mereka dan fokus ke naskah gue..
Jadi keinget kan pas pasang colokan tadi..
Sekitar 1 jam gue nongkrong di Wendys, nyokap gue balik membawa banyak buku. "Mas, mamah makan dulu ya. Kamu mau bawa apa buat dirumah?"
Gue jawab "Enggak ah. Udah makan tadi. Buat ayah aja di rumah."
Nyokap gue bangkit dan menuju ke konter Wendys untuk beli makanan. Gue kembali ngeliat laptop, dan mulai berfikir. Kayanya gue lebih tenang untuk berkreasi kalau lagi sendirian, atau keadaan dimana lagi gak ada yang memperhatikan. Karena yang gue liat, sudah 3/4 naskah yang sudah gue ketik. Tinggal sedikit lagi bisa gue kerjain di rumah.
Melihat beberapa kejadian tadi, gue jadi berangan-angan "Gimana kalau cerita tadi ada di dalam film? Dan bagaimana kalau cerita dalam film terjadi di kehidupan nyata?"
Nyokap selesai makan, dan gue membereskan kembali laptop yang gue bawa tadi. Berbeda dengan yang tadi, sekarang gue gak malu buat nyopot charger laptop dari stop kontaknya. Gue berjalan pulang kerumah sambil membaca-baca lagi hasil ketikan gue di Mall tadi.
Sekarang gue ngerti, gue gak peduli sama apa yang orang lain katakan, asalkan gue percaya apa yang gue lakukan dapat membawa efek positif dalam sebuah kehidupan.
Gue mengawali post ini di rumah dan mengakhirinya di toilet rumah. Sorry kalau gue terlalu lama gak nulis, kalian bisa ingetin gue buat nulis setiap minggu lewat twitter di @namagueitu. Okay?
Thanks for reading, lovely folks :)
Komentar
Posting Komentar