Ada cerita cinta, di Jemputanku.
Malam hari, stress dengan tugas sekolah, dan stress dengan diri sendiri. Gue memutuskan untuk menulis blog dan sharing tentang cerpen milik teman gue. Selamat membaca.
-
Ada Cerita Cinta di Jemputanku
Karya: Hafizhah Azlia
Hari ini hari Kamis, semua
buku tebal ada dalam tasku. Matematika, Biologi dan IPS. Kapan badanku akan
bertambah tinggi bila seperti ini? Buku-buku pelajaran seakan tidak rela bila
aku bertambah tinggi, mereka bekerja sama untuk menahan tinggi badanku.
“Pak, mobil jemputannya
dimana?” kataku saat melihat supir jemputanku sedang duduk-duduk di lobi
sekolah bersama dengan supir-supir jemputan yang lain.
“Di deket pos satpam pintu keluar.” Jawab supir jemputanku dengan aksen
Tegalnya.
“Oh..” hanya itu jawabku
Kemudian aku berjalan menuju
pos satpam di pintu keluar sambil clingak-clinguk
mencari mobil jemputanku dan menghiraukan panggilan para tukang ojek yang
berusaha menarikku untuk pulang dengan ojek mereka.
Aku melihat mobil berwarna
putih yang terparkir di jembatan belakang pos satpam. Aku membuka pintu
jemputan, lalu melihat adik kelasku duduk sendirian di pojok belakang mobil.
Mukanya sendu.
“Lu kenapa, Ton?” tanyaku
“Hm? Gak apa-apa.” Jawab
adik kelasku itu, Toni
Setengah jam berlalu dan
akhirnya jemputanku penuh. 2 orang anak SD duduk di paling depan sebelah supir,
3 orang perempuan adik kelasku kelas 7 dan 8 duduk persis di depanku, 5 orang
laki-laki kelas 8 termasuk Toni duduk di paling belakang , kecuali Toni, ia
duduk di sebelahku. Sedangkan aku? Aku satu-satunya anak kelas 9 di jemputan
ini.
Seperti biasanya, anak
laki-laki kelas 8 mulai berisik.
“Toni, Toni lagi galau ya?
Kenapa? Mikirin Alea ya?” kata adik kelasku, Diego dengan suaranya yang lembut,
seperti suara teman Upin dan Ipin, Fizi.
“Iya, pasti lagi mikirin
Alea. Toni kan pacarnya Alea.” lanjut Deni
Secara bergantian, laki-laki
kelas 8 itu menggoda Toni. Biasanya Toni marah atau membalas perkataan
teman-temannya. Tapi kenapa ia diam saja? Apa ada yang salah? Aku bingung
sendiri.
Setelah jemputan sudah sepi,
barulah aku berani bertanya padanya. Karena setelah berteman 3 tahun, aku tahu
Toni tidak akan mau menceritakan kisah pribadinya jika masih ada
teman-temannya.
“Lu kenapa dari tadi diem
aja? Muka lu galau lagi.” Tanyaku pelan
“Lagi ada masalah sama
Alea.” Jawabnya lemah
“Ada masalah apa?” tanyaku
lagi. Toni dan Aleasudah berpacaran selama sekitar 4 bulan, hampir 5 bulan
malah. Hubungan mereka juga baik-baik saja. Ada apa sekarang?
“Ya… Gitu lah…” jawabnya
singkat
‘Ini masalah pribadi dia. Ngapain gue ikut campur?’ pikirku, dan berhenti untuk mengintrogasinya. Kulihat
dia menundukkan kepalanya sambil menutup mata.
Esoknya masih sama, Toni
masih tak bergeming saat diejek oleh teman-temannya. Hingga saat di jemputan
hanya ada aku dan dia, dia mulai bercerita.
“Lu tau? Menurut gue, Alea
udah berubah.” Ucapnya membuka percakapan. Ia juga tak menyebutku dengan
sebutan ‘kak’ dan aku tidak bermasalah dengan itu.
“Berubah? Apanya yang
berubah?” tanyaku bingung
“Ya, dia gak kayak dulu
lagi. Jarang senyum ke gue. Berubah gitulah…” jawabnya
Aku diam.
“Trus dia juga sering
marah-marah. Apa yang gue lakuin tuh kayaknya sakah terus dimata dia. Jadinya
gue bingung mau ngelakuin apa.” Katanya dengan wajah sedih.
Pelan-pelan, ia mulai
menceritakan semuanya padaku. Seperti bagaimana sifat Alea dulu dan sekarang.
Bagaimana Toni selalu memperhatikan Alea dengan selalu menyebut nama ‘Alea’ di
setiap tweetnya. Lama-kelamaan, mata Toni basah, ia menangis.
Sambil terus mencurahkan apa
yang ada di hatinya, air mata juga terus menetes dari matanya. Jujur, ini
pengalaman pertamaku melihat seorang laki-laki menangis.
Ia terus menangis hingga
mobil jemputan kami telah berhenti di depan rumahnya. Tiba-tiba Toni menampar
dirinya sendiri.
“Ton, kenapa?” tanyaku panic
“Biar gak kelihatan abis
nangis..” katanya. Toni kemudian turun dan segera masuk ke rumahnya.
Tak berapa jauh dari rumah
Toni, HPku berbunyi, menandakan SMS masuk. Ternyata dari Toni
‘Sha, boleh minta tolong, gak?’
‘Mau minta tolong apa?’ aku membalasnya
‘Lu mau gak tanyain Alea soal hubungan gue sama dia. Lu
kan cewe, dia pasti mau cerita ke lu’
‘Gue ggak yakin, Ton..’
‘Ayolah, bantu gue’
Aku berpikir sebentar dan
kemudian membalas, ‘Oke, besok gue coba
ya..’
‘Thanks Narsha. Kalo besok lu mau nanya ke dia, sekalian
bilang Happy Birthday ya..’
‘Dia besok ultah ya? Oke^^’
~~~
Besoknya saat waktu istirahat,
Toni selalu mengejarku. Menanyakan hal yang sama, “Lu udah nanya dia belom?”.
Yang tentu saja kau jawab dengan gelengan kepalaku.
Namun, saat pulang sekolah
tanpa sengaja aku melihat Alea duduk sendirian di depan ruang guru. Langsung
saja aku menyapanya.
“Halo Alea…” kataku samba
duduk di sebelahnya
“Eh, halo kak…” jawabnya
sambil tersenyum.
“Hmm… Bukannya mau ikut
campur Tapi kamu sama Toni lagi ada masalah apa deh?” tanyaku hati-hati
“Gak apa-apa kok kak. Iya,
akhir-akhir ini kita… Yah, gitulah..” jawabnya
“Soalnya si Toni kalo di
jemputan tuh galau banget. Kalo aku boleh tau, masalah kalian apa deh? Maaf
kalo ikut campur. Abis aku kashian ngeliat Toni.” Kataku
“Oh, gak apa-apa kok kak…”
jawabnya lagi.
Kemudian, Alea mulai
menceritakan semuanya. Aku pun mulai mengerti letak masalah mereka. Bagi Toni,
apa yang telah ia lakukan itu benar. Toni merasa bahwa ia telah menunjukan
bahwa ia saying dan peduli pada Alea. Namun menurut Alea, apa yang dilakukan
Toni terlalu berlebihan. Hanya itu masalahnya. Hanya itu. Aku sendiri bingung
mengapa hal spele seperti itu dapat serumit ini?
“Hmm.. Kalo aku bilang ke
Toni kamu marah gak?” tanyaku. Karena Toni juga memintaku untuk memberitahunya
tentang hasil percakapan ini.
“Sebenernya sih gak masalah,
kak. Aku juga pengen masalahnya selesai.” jawabnya
“Kalo gitu ya udah, nanti
aku kasih tau Toni. Sekali lagi. Maaf ya ikut campur.” Kataku
“Gak apa-apa, kak. Kakak
malah ngebantu kok. Aku duluan ya kak…” Alea kemudian pamit dan segera pulang
dengan teman-temannya yang menatapku penuh tanya.
Setelah aku tak lagi
melihatAlea dan teman-temannya, aku segera mengirim
pesan kepada Toni berbunyi, ‘Udah. Besok gue kasih tau’ dan tak berapa
lama, Toni menjawab ‘Oke.. Thanks Narsha’
Seperti janjiku, saat
jemputan sudah sepi aku menceritakan semuanya. Toni terlihat sangat antusias.
Sepertinya ia sedang mencari-cari apa kesalahannya. Saat aku selesai bicara
barulah ia berkata
“Jadi itu mau dia. Oke, demi
dia gue lakuin itu.”
“Oh ya, Ton!”
“Apa?”
“Kemaren gue lupa ngucapin Happy
Birthday ke Alea!”
“Ah! Gue kira apaan!”
Seminggu berlalu, aku tak
mendengar kisah Alea dan Toni. Toni juga tak pernah lagi bercerita apapun
tentang Alea padaku. Tentu saja aku berpikir hubungan mereka sudah membaik.
Tapi pada malam hari, sekitar jam 8. HPku berbunyi menandakan ada SMS masuk.
Aku membukanya, dari Toni
‘Sha, gue putus.’
‘Hah? Kok bisa?’
‘Dia mutusin gue tadi. Semenit yang lalu,’
Aku tidak membalas SMSnya.
Masih terkejut. Kemudian HPku berbunyi lagi.
‘Berat banget ngelepasin dia. Kita putus baik-baik. Dia
bahagia, gue juga bahagia’
‘Ya udah Ton. Mungkin aja lu akan dapet yang lebih baik
dari dia.’
‘Bagi gue gak ada cewe yang kayak dia. Makanya gue gak
mau ngelepasin dia gitu aja.’
‘Cewek di dunia ini itu gak Cuma dia aja tau!’
‘Iya sih..’
‘Udah lah… Jangan terlalu dipikirin. Senyum. Buktiin ke
Alea kalo lu itu kuat :)’
‘Siip.. Oh ya, thanks ya udah bantuin gue’
‘Ya sama-sama’
Setelah membalasnya, aku
berpikir. Apa semua karenaku? Apa mereka putus karena aku bertemu dengan Alea
waktu itu? Karena merasa berslah, aku bertanya pada Toni
‘Gara-gara gue ya kalian putus?’
‘Hah? Enggak kok…’
perasaanku sedikit lega
‘Gue merasa bersalah soalnya..’
‘Enggak kok.. Bukan salah lu. Gak usah ngerasa bersalah’
‘Okelah :)’
Beberapa hari sejak saat itu, sifat Toni
berubah. Ia kembali ceria dan mulai isengmengerjai teman-temannya.
Komentar
Posting Komentar