Maniak Energy Drink
Membaca judul dari posting ini, sebenernya gue bukan anak yang aneh-aneh. Gue anaknya polos, nggak ngerokok, nggak minum kopi. Sekalinya minum kopi pun merk-nya pasti Good Day. Itu pun karena pas SMP gue pikir Good Day itu minuman rasa kopi (inget ya, rasa kopi. Bukan kopi) kayak Pop Ice. Gue ketemunya pun di tempat les. Karena dulu gue les setiap hari, gue beli Good Day tiap hari.
Berhubung karena setelah itu gue diduga punya maag akut, gue pun berhenti minum dan sejak saat itu gak suka kopi. Sebenernya dari awal, nggak pernah suka kopi item, sih. Udah item.
Cuman, selama semester 7 ini gue rasanya bener-bener mager banget. Rasanya nggak pengen ngapa-ngapain. Bahkan gue pun ogah bersihin kamar sendiri, ogah ngeganti air minum, dan ogah masuk ke kampus. Separah itu rasanya. Padahal kalau ditanya, mau mah mau. Selalu ada rasa mager yang berlebihan di diri ini. Gue pun mencari bantuan.
Beberapa psikolog udah gue datangi, tapi efeknya cuma sesaat. Gue bisa ngerti saat itu apa yang harus gua lakukan, tapi malah nggak bisa ngapa-ngapain lagi esok harinya. Kemudian gue cari lebih dalam terkait kenapa diri gue dan gejala-gejala yang gue punya. Impossible task, takut buat ketemu dosen (ini sih karena nggak berprogress selama sebulan lebih, yang mungkin juga karena impossible task), dan nggak jarang mood itu naik turun. Setelah mencari, gue sampai di kesimpulan bahwa mungkin ada yang salah (abnormal) dari gue dan otak gue, sehingga gue kayak gini.
Gue kesel sendiri. Rasanya I need to do shits like now. Gak bisa gue terlena sama kinerja otak dan motorik gue (yang selama ini kalau nugas pasti lemot dan otot gue rasanya letoy banget) kayak gini. Gue kemudian penasaran apakah ada minuman yang bikin orang semangat, yang bikin gue jadi rajin dan terjaga, tapi bukan kopi. Gue cari lah ke minimarket terdekat.
Sesampainya gue di minimarket, gue langsung ke tempat kulkas minuman. Gue perhatiin satu-satu minuman yang ada di sana.
Pertama kali gue ngeliat Milo. Kata Nouvend, Milo itu sebenernya stimulan, kayak kopi. Bukan susu. Gue pernah coba minum Milo, tapi kok rasanya nggak menambah energi apa-apa ke gue. Apa karena gue beli Milo-nya di restoran makanan, di mana biasanya mereka menambahkan air putih supaya Milo-nya gak abis-abis atau mungkin karena gue udah toleran sama gula. Nggak, kayaknya bukan Milo.
Gue ngeliat minuman kayak Pocari Sweat dan Mizone. Mereka minuman isotonik, cuma buat bikin cairan di tubuh terpenuhi. Nggak ada zat apa-apa yang bikin gue semangat atau terjaga. Apalagi Pocari Sweat, keringet orang jepang. Kasian banget, mereka harus olahraga terus keringetnya diperes dan dimasukin ke botol-botol. Kasian pokoknya. Gue mencoret Pocari Sweat dan Mizone dari list.
Sampailah mata gue ke Kratingdaeng. Minuman energi. Seumur-umur gue nggak pernah minum kayak gitu. Kalau kata Nyokap, minuman itu ya minumannya tukang-tukang dan pekerja-pekerja. Jadilah gue nggak pernah minum itu. Tapi di kepala gue, selalu penasaran akan satu hal: Mulai usia berapa gue boleh minum Kratingdaeng? Berhubung gue inget umur gue udah 21 tahun, kayaknya sih udah masuk kategori dewasa dan sudah boleh minum ya. Ambillah gue satu botol Kratingdaeng dan gue googling tuh kandungan yang ada di dalamnya.
Ternyata, ada satu zat namanya Taurine yang bagus banget buat badan. Apalagi menurut website HonestDocs.id, Taurine itu bisa meningkatkan mood dan memperbaiki memori pada otak, mendorong otot bekerja lebih keras dan memperlancar metabolisme dalam tubuh sehingga bisa jadi menurunkan berat badan. Argumen ini pun didukung serupa sama website Healthline yang emang sudah terkenal akan kredibilitasnya bikin tulisan yang juga dicek.
Berdasarkan riset singkat diatas, gue pun tertarik untuk beli energy drink ini. Cuma kayaknya gue masih takut untuk minum merk "Kratingdaeng", jadi gue ambil minuman merk Hemaviton Energy Drink yang punya 900mg Taurine (sementara yang lain punya 1000mg). Beda dikit sih, cuma ya takut aja kebanyakan minum, kan?
Efeknya langsung berasa. Gue jadi berani buat dateng ke kampus, gue jadi ngerjain tugas gue (yang padahal biasanya gue males), dan besok paginya pas gue minum lagi, gue jadi berani untuk asistensi ketemu dosen padahal selama ini takutnya bukan main. Gue nggak sebegitu sedihnya menjalani hidup dan nggak stress juga. Gue langsung berasa minuman energi kayak gini justru yang gue butuhkan. Paling enggak, Taurine-nya lah.
Sekalinya minggu depannya pas gue studi ekskursi ke Bali, gue sempet nggak minum. Itu rasanya langsung nge-drop. Detak jantung nggak sebegitu berasa kenceng, langsung galau gak karuan, sedih berkepanjangan, dll. Akhirnya pun mau nggak mau, gue harus tetap meminum ini supaya gue nggak kenapa-kenapa.
Gue sebenernya juga agak khawatir akan kesehatan dari minuman energi ini, karena gulanya juga banyak. Gue juga udah gendut kan. Kalau ada suplemen yang terpercaya yang isinya cuma Taurine (atau isinya kayak vitamin gitu), dan harganya cukup affordable, gue bakalan pindah ke produk itu, sih. Cuma gue rasa, gue siap untuk ambil resikonya, dengan anggapan karena kondisi gue kondisi yang cukup abnormal dibandingkan neurotypical lainnya, sehingga gue membutuhkan hal ini untuk bisa 'stabil'. Paling nggak, sebelum gue punya cukup uang untuk ke psikiater dan mendapatkan diagnosis klinis.
Menurut kalian gimana? Kalau ada saran atau apa, langsung tulis aja ya di kolom komentar. Gue suka ngecek isi blog gitu soalnya, berharap ada yang ngasih komentar gitu. So, a comment might be nice.
Semoga aja lah ya, jadi lebih baik. Amin.

Komentar
Posting Komentar